Mengenal Semilir Ecoprint yang Mempopulerkan Kain Kayu Lantung Khas Bengkulu

Gendisayu.com | Kain Kayu Lantung Khas Bengkulu Kehadiran teknologi dan internet membuat industri fashion berkembang dengan sangat pesat dan membuat trend fashion dapat berubah  dalam sekejap mata.

Karena itu, nggak mengherankan kalau gaya anak muda sekarang terlihat jauh lebih modis dan lebih multifarious dibandingkan dengan gaya anak muda beberapa tahun yang lalu.

Industri fashion sendiri adalah salah satu penggerak ekonomi terbesar di dunia. Tapi sayangnya, dibalik trend fashion yang terus berubah, ada kenyataan yang cukup mengkhawatirkan.

Betapa tidak, fashion saat ini dianggap sebagai salah satu ancaman terbesar bagi lingkungan. Buktinya, tidak sedikit produksi pakaian yang melibatkan bahan kimia berbahaya seperti tidak hingga zat pewarna sintetis. Zat-zat tersebut sudah pasti akan mencemari tanah dan air jika tidak diolah dengan benar.

Selain penggunaan pewarna sintetis atau berbagai bahan kimia lainnya, industri fashion juga kerap menggunakan sumber daya alam yang berlebihan. Di samping itu, mode atau tren yang berubah dengan cepat juga kerap memunculkan kekhawatiran tersendiri. Seperti, sikap impulsif konsumen dalam membeli pakaian yang hanya digunakan beberapa kali sebelum kemudian dibuang, atau bahkan ada yang dibakar karena stok tidak habis terjual.

Meskipun sebagian besar bahan yang digunakan dalam industri fashion adalah kain yang terbuat dari bahan alami berupa katun atau kain kapas. Tapi sayangnya, proses pewarnaan hingga penambahan motif masih banyak melibatkan bahan-bahan kimia yang menghasilkan limbah dan membahayakan lingkungan.

Untungnya, di dunia ini masih banyak orang-orang yang berjiwa kreatif yang mau mendedikasikan dirinya untuk mencegah kerusakan lingkungan sekaligus menawarkan alternatif yang lebih baik.

Mengenal Ecoprint di Dunia Fashion

Kain Kayu Lantung di dunia fesyen

Ecoprint sendiri bukan sesuatu yang baru di dunia fashion. Meski demikian, ecoprint tetap dianggap sebagai angin segar bagi dunia fashion karena lebih ramah lingkungan.

Ecoprint dianggap lebih ramah lingkungan karena metode pencetakan tekstil ini bersifat berkelanjutan dan tidak melibatkan bahan kimia yang berlebihan.

Singkatnya, eco print merupakan salah satu metode pencetakan tekstil dengan bahan baku yang lebih ramah lingkungan seperti dedaunan, bunga-bunga, serta berbagai bagian dari pertumbuhan.

Sejarah Ecoprint pada Kain Kayu Lantung

Salah satu sosok yang memanfaatkan keunikan ecoprint adalah Alvira Oktaviani yang berasal dari Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Alvira Oktaviani yang lebih akrab disapa Mbak Fira sendiri adalah seorang mompreneur yang sudah lama berkecimpung dalam dunia bisnis dan fashion.

Untuk mempromosikan kain ecoprint hasil buatannya, mompreneur lulusan apoteker ini pun tak ragu membuat trademark sendiri yang bernama “Semilir Ecoprint.”

Agar bisa bersaing di pasar, Mbak Fira terus mencoba melakukan berbagai macam inovasi. Salah satunya adalah dengan menggunakan kain yang berbeda. Karena selama ini masih menggunakan kain pada umumnya.

Kesempatan untuk melakukan inovasi itu pun muncul pada tahun 2018 silam, ketika sang Ayah yang mengetahui keinginan putrinya untuk melakukan inovasi, membawa sebuah souvenir berupa tas polos khas Bengkulu.

Meski hanya sebuah tas polos, namun tas tersebut bukanlah sembarang tas. Pasalnya, tas tersebut sejatinya terbuat dari bahan kain kayu lantung.

Sejak itu, Mbak Fira aktif mencari tahu asal-usul Kain Kayu Lantung dan melakukan berbagai macam riset untuk menerapkan ecoprint.

“Jadi, saat itu, selain menggali semua info asal usul kain kayu lantung, aku juga melakukan riset, uji coba berkali-kali dan akhirnya jadi sebuah produk.” Papar Mbak Fira Pada suatu kesempatan.

Setelah melalui uji coba berkali-kali, Mbak Fira pun sukses menghasilkan produk seperti yang diharapkannya. Setelah menghasilkan produk, ia mencoba melepasnya ke pasar. Tak dinyana, sambutan pasar ternyata cukup positif.

Alhamdulillah… banyak sambutan positif dari customer.” Imbuh Mbak Fira.

Kesuksesannya menerapkan ecoprint pada Kain Kayu lantung dan sambutan positif dari customer telah menginspirasi Mbak Fira untuk memperkenalkan kain khas Bengkulu dan produk ecoprint-nya ke pasar yang lebih luas.

Mengenal Kain Kayu Lantung dari Bengkulu

Kain Kayu Lantung Khas Bengkulu

Indonesia yang terkenal dengan keragaman suku dan budaya telah melahirkan berbagai macam hal-hal unik dan menarik. Salah satunya adalah kain.

Seperti yang kita tahu, di berbagai daerah ada banyak kain khas yang unik dan menarik. Di Sumba misalnya, di sana kita mengenal ada kain Ikat Sumba, di Makassar ada Songket Sutra, Di Lombok ada Tenun Ikat, lalu di Bali ada Batik Bali yang ditenun dengan hiasan benang emas atau perak.

Selain berbagai kain-kain khas daerah yang terkenal tersebut, di Indonesia sebenarnya masih ada banyak kain-kain unik yang menarik, yang tidak hanya terbuat dari bahan katun, tapi juga terbuat dari bahan alam lainnya, seperti kain kayu lantung.

Kayu Lantung (Artocarpus Altilis) lebih kita kenal dengan sebutan pohon terap. Ternyata memiliki kulit yang bisa diolah menjadi kain.

Adalah masyarakat yang ada di wilayah Bengkulu yang mengolah kulit pohon lantung ini menjadi kain, yang disebut Kain Kayu Lantung. Awal mula ditemukannya kain kayu Lantung memiliki sejarah yang kelam.

Ceritanya bermula pada tahun 1943, ketika penjajah Jepang menguasai Indonesia. Pada saat itu, kondisi masyarakat sangat miskin hingga untuk membeli bahan pakaian pun mereka tak mampu.

Kondisi tersebut memaksa masyarakat untuk memanfaatkan bahan-bahan yang ada di alam seperti kulit kayu dijadikan sebagai pakaian.

Dari sekian banyak kulit kayu yang dijadikan pakaian sebagai pakaian oleh masyarakat pada saat itu, kulit kayu lantung adalah salah satu yang paling banyak digunakan.

Beberapa faktor yang membuat kulit kayu lantung ini dipilih sebagai bahan pakaian pada saat itu. Pertama Karena di daerah tersebut kayu Lampung bisa dengan mudah ditemukan di hutan. Bagian kulit tengahnya setelah melalui sejumlah proses bisa menjadi bahan pakaian yang cukup kokoh dan lentur layaknya kain yang terbuat dari bahan katun.

Bahkan, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang memproduksi kain kayu Lampung. Khususnya masyarakat yang ada di Desa Papahan, Kecamatan Kinal, Kabupaten Kaur, Bengkulu.

Proses pembuatan kulit kayu lantung menjadi kain sebenarnya cukup sederhana. Dimulai dari pencarian pohon lantung yang berusia antara 5 hingga 10 tahun. Pohon yang sudah cukup tua ini akan diambil kulitnya secara hati-hati agar tidak sobek.

Kulit kayu tersebut selanjutnya akan dipukul-pukul menggunakan perikai yang terbuat dari tanduk kerbau atau kayu.

Pukulan perikai pada kulit kayu lantung ini terdengar seperti suara “tung, tung, tung.” Dari sanalah asal muasal sebutan “kain Lantung.”

Sejak tahun 2015, Kain Kayu Lantung telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI.

Alfira Oktaviani Raih SATU Indonesia Awards 2022 di Bidang Kewirausahaan

Alfira Oktaviani Founder Semilir Ecoprint

 

Pada tahun 2022 silam, kiprah Alfira Oktaviani (Mbak Fira) dalam dunia wirausaha berkelanjutan telah membawanya meraih penghargaan SATU Indonesia Awards 2022 di Bidang Kewirausahaan dari PT Astra International Tbk. 

Pengakuan dan sekaligus bentuk dukungan tersebut, dimanfaatkan oleh Mbak Fira sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuannya yang lebih besar, yaitu memperkenalkan kain lantung sebagai warisan budaya tak benda yang bernilai tinggi dan memecahkan masalah lingkungan di wilayah produksi kain tersebut.

Melalui jaringan dan dukungan yang diperolehnya, Mbak Fira berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keindahan dan keunikan kulit kayu lantung sebagai bahan untuk produk kerajinan. Bahkan, dia bermimpi agar kain lantung bisa diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO.

Dengan semangat seperti yang telah ditunjukkan oleh Mbak Fira dalam upayanya melestarikan dan mempromosikan warisan budaya Indonesia. Saya pikir kalau, kita semua pasti bisa berkontribusi dalam mewujudkan visi tersebut. Terima kasih kepada Mbak Fira, yang telah memberikan inspirasi kepada kita semua. Yuk, sama-sama kita berkontribusi untuk Indonesia yang lebih baik.

Note: 

Sumber foto : https://www.radioidola.com/2023/mengenal-alfira-oktaviani-founder-semilir-ecoprint-yogyakarta/

Leave a comment