Pengalaman Melahirkan: Aku Tidak Mempersiapkan untuk “Hal” Ini

Gendisayu.com | Pengalaman Melahirkan Saat paling membahagiakan sekaligus paling mendebarkan, akhirnya tiba. Bisikku pada diriku sendiri malam itu. Tentu saja, tak hanya aku, tapi juga suami dan keluarga yang ikut menunggu di rumah sakit.

“Ya Allah izinkan hamba merawat dan mendidik putri hamba. Semoga kami berdua selamat tanpa kurang satu apapun”

Pengalaman Melahirkan: 7 Oktober 2022, Ketuban Rembes

USG 4D

Tanggal 10 Oktober adalah hari perkiraan lahir (HPL) ku. Karena tidak ada tanda-tanda akan melahirkan, jadi hari Jum’at sore ini kami memutuskan untuk pergi konsultasi.

Setalah selesai mandi, tiba-tiba terdengar suara “bruk” dari depan rumah. Aku pun bergegas keluar. 

Ternyata suara tadi berasal dari mobil pick up pengangkut kabel dan alat listrik yang menabrak tiang kanopi rumahku. Aku pun langsung keluar dan teriak:

“Eh pak mau kabur kemana? Ini tiang kanopi saya ringsek”

Pengemudi pick up tersebut langsung turun dan mengecek keadaan. Aku pun langsung menelpon suamiku dan menyuruh mereka menunggu suamiku pulang untuk penyelesaian masalah.

“Sudah mas, kami nggak pengen uang ganti rugi. Kami maunya tiang kanopi kami diganti biar seperti semula aja,” tutur suamiku. 

Setelah masalah tersebut selesai, kami berangkat ke tempat praktik dr. Deddy Madakusuma, Sp.OG(K) di Kampung Melayu. 

“Mbak, ada rembes nggak? Ini ketubannya sisa 10 aja. Cukup, tapi kalau bisa perbanyak minum air ya,” tutur beliau

Aku pun mantap menjawab tidak. Karena memang tidak ada rembes dan keputihan selama trisemester terakhir. 

“Posisi bayinya bagus, bisa lahiran normal,” lanjut beliau. 

Setelah pulang dari rumah sakit, seperti biasa aku duduk di gym ball sambil ngobrol dengan suami.

“Beb, celanaku basah ya?,” tanyaku

Benar saja celanaku basah. Aku pun mengganti celanaku. Tapi… kok basah lagi.

Aku pun langsung mengambil cairan yang keluar dan konsultasi ke dr Deddy. 

“Betul mbak, itu ketuban. Segera ke rumah sakit ya mba. Sepertinya rembes”

7-8 Oktober 2022, Mengelilingi 6 Rumah Sakit

Pengalaman melahirkan keliling rumah sakit di Banjarmasin

Setelah sedikit berdebat dengan suami masalah bawaan rumah sakit, pukul 22.00 WITA kami pun berangkat ke Rumah Sakit Islam Banjarmasin, RS rujukan untuk persalinan. 

Sampai di RS Islam Banjarmasin, bidan yang bertugas langsung melakuka pengecekan dengan lakmus.

“Benar mbak, ketubannya rembes. Saran kami, kalau kondisi ketuban rembes lebih baik operasi aja mbak. Karena kalau normal kemungkinan berhasilnya 50:50,” tutur bidan.

Aku dan suami pun sepakat untuk mengambil saran dari bidan tersebut. Sayangnya…

“Tapi mohon maaf, ruang operasi di rumah sakit kami sedang direnovasi. Jadi bisa ke RS TPT kalau dengan dr Dedddy”

Aku dan suami langsung membagi tugas. Apalagi temanku sudah datang untuk menemani aku di rumah sakit. 

“Ya udah, aku pulang dulu ambil baju dan perlengkapan lainnya. Kamu sama Banon ke RS TPT, naik taksi online. Nanti kabar-kabaran ya,” ucap suamiku sebelum pulang.

Aku dan Banon langsung ke RS TPT. Setelah sampai di RS TPT, ternyata kondisinya sama. Ruang operasi sedang dalam renovasi. 

“Beb, RS TPT juga lagi renov. Coba kamu mampir ke RS Bhayangkara, RS Ulin, atau RS Sari Mulia ya,” kabarku ke suami. 

Sambil menunggu kabar suami, aku dan Banon memutuskan untuk menunggu di RS TPT. 

Sayangnya, hingga pukul 2 pagi, kami belum menemukan RS untuk persalinan. Hehehe. 

  • RS Bhayangkara dokternya sedang cuti, jadi kalau perlu tindakan SC tidak bisa
  • RS Ulin, hhhmmm tidak dilayani dengan baik
  • RS Sari Mulia perlu naik kelas BPJS

Akhirnya, aku nekad memutuskan untuk “coba ke RS Anshari Saleh aja”. 

foto terakhir sebelum berstatus ibu

Alhamdulillah di RS Anshari Saleh (Ansal) ruang operasinya ada dan ada dokter residen yang bertugas. Tapi ruang NICU sedang penuh.

“Bismillah aja pak. Berdoa sempga bayinya sehat. Kami akan tetap mengusakan yang terbaik jika perlu ruang NICU pak,” tutur staf RS Ansal.

8 Oktober 2022, Dua Kali Induksi

dua kali induksi

Pengalaman melahirkan yang tidak aku persiapkan adalah induksi. Apalagi setelah mendengar desas-desus bahwa induksi lebih menyakitkan dari pada pembukaan normal. 

“Kita coba normal dulu ya mbak. Sayang anak pertama kalau SC,” tutur dr Regina. 

Kami pun mengiyakan. Toh rencanaku memang melahirkan normal. 

Bismillah

Pukul 8 pagi, dr Regina datang untuk mengecek pembukaan. Tapi ternyata masih pembukaan 1 dan jauh. Akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan induksi pertama. 

Sekitar pukul 10, air ketuban yang keluar semakin banyak. Kemudian ada dokter yang datang melakukan pengecekan: pembukaan 5 bu.

Alhamdulillah

Sejujurnya aku sudah gelisah. Karena ibu-ibu lain yang berada di ruangan melahirkan ini sudah melahirkan. Bahkan yang datang setelah aku. Aku menjadi tak sabar ingin mendengar suara tangis bayi yang keluar dari rahimku. 

Pukul 2 siang, dr Regina datang untuk pengecekan pembukaan dan detak jantung janin. Tapiii….

“Masih pembukaan 3 mbak. Belum ada kemajuan dan ini masih jauh. Jam 4 kita iduksi lagi ya,” pungkas beliau. 

Aku pun meng-iya-kan. Apalagi memang tidak ada rasa sakit selama proses persalinan dengan induksi ini. Malah aku makan dengan lahap.

Induksi Ke-2: Ya Allaaah Tolong Hambaaa

Jam 4 sore, dr Regina datang untuk melakukan induksi ke 2.

1 jam pertama, tidak ada efek yang berarti. Tapi menjelang pukul 5 sore. Ya Allah.

Rasanya nyawaku seperti ditarik dari pinggang hingga ujung kaki.

Begini toh rasanya kontraksi

Aku pun tak bisa melepaskan tangan suamiku. Bahkan dia tak sempat untuk makan. barang sesuap.

Ditengah rasa sakit itu, aku akhirnya bisa tidur walau sesaat. Tidur karena lelah.

Ketika aku bangun, kontraksi semakin instens. Tak sampai 1 menit reda, langsung datang kontraksi susulan. Aku kira sudah hampir brojol.   

Badanku terasa terbelah dua. 

Pukul 7 malam, dr Regina datang. Setelah melakukan pengecekan, beliau memanggil suamiku ke ruangan.

“Operasi beb. Nggak apa-apa ya. Aku udah tandatangan suratnya,” tutur suamiku dengan tatapan nanar.

Menunggu Anestesi yang Menyiksa

Setelah persetujuan operasi, aku begitu gelisah. Kontraksi semakin instens, bayi di dalam perutku semakin berontak ingin keluar.

Sabar ya nak. KIta berjuang sedikit lagi

Sekitar pukul 10 malam, akhirnya aku dibawa ke ruang anestesi. Dua orang petugas bersiap melaksanakan tugasnya. 

“Pegang bantalnya erat-erat ya mbak. Jangan bergerak. Kalau bergerak harus diulang prosesnya,” tutur salah satu dari mereka.

Nahas, setiap proses anestesi dimulai, saat itu pula kontraksi datang. Setelah 3 kali gagal, akhirnya proses dilaksanakan dengan cepat setelah kontraksi reda. 

Aku pun memeluk bantal “keras” yang diberikan dengan erat.

Tahan Put, kamu bisa!

Alhamdulilah kali ini berhasil. 

Perlahan-lahan, ada cairan yang merayap di syaraf-syaraf perutku. Tak lama, perut sampai kaki ku mati rasa. Perutku rasanya seperti ada lapisan styrofoam tebal.

“Mas, kenapa ya yang sebelah kiri nggak terlalu mati rasa?” tanyaku.

“Mungkin belum mbak,” jawab petugas. 

Suamiku pun datang untuk menemani. Tapi, setelah anestesi aku tak langsung dibawa ke ruang operasi. Karena masih ada pasien kritis yang sedang berjuang di ruangan tersebut.

9 Oktober 2022, Ruang Operasi yang Dingin

DJJ nya tidak stabil. Kita segera ke ruang operasi

Sekitar pukul 12 malam, akhirnya aku dibawa ke ruang operasi. Di dalam hati, aku berkali-kali berdoa;

Ya Allah semoga hamba dan anak hamba keluar dari ruang operasi ini dengan sehat selamat.

Dokter dan tenaga pendamping mulai melakukan proses operasi caesar. Tapi kok perih ya. Batinku waktu itu. 

Ya! Aku bisa merasakan perihnya sayatan di perut.

PUkul 01.09, setelah didorong dan aku berteriak “Allahuakbar”, suara tangisan kecil terdengar. Saking kecilnya, aku sampai tidak yakin kalau anakku telah lahir.

“Sudah lahir dok?,” aku memastikan.

“Sudah bu,” tutur salah satu perawat.

Tak lama seorang perawat membawa Gendis yang sudah dibedong ke hadapanku yang masih melanjutkan perjuangan. Aku pun tersenyum lega melihat dia tertidur pulas dengan balutan bedong cokelat yang serasi dengan bajunya berwarna earthy, senada dengan topi yang dia gunakan.  

Proses selanjutnya… lebih menyiksa.

Dijahit Hidup-hidup

Bagaimana rasanya operasi caesar?

SAKIT.

Tak seperti kata orang yang beranggapan melahirkan dengan cara operasi itu tidak menyakitkan. Ternyata operasi caesar itu sangat menyakitkan untukku.

Setelah bayi keluar, dokter melakukan proses selanjutnya: menjahit perut. 

Tapiii… nahasnya saat proses ini infusku menusuk ke tulang. Dan ini rasanya sangat sakit. Apalagi saat mencari jalan infus baru, prosesnya sangat lama.

Ada yang lebih parah. Bius diperutku tidak mempan!

Aku bisa merasakan bagaimana sakitnya dijahit hidup-hidup. Sampai akhirnya aku berteriak. 

“SAKIIIIIT”

Sontak seisi ruangan terdiam. Mereka menyakan kenapa aku berteriak di tengah malam saat mereka juga kelelahan.

“Sakit dok, perih banget. Mau pingsan saya. Sakit sekali. Biusnya nggak berasa.”

Dokter dan tenaga medis langsung mengambil langkah selanjutnya. Bius total.

Menggigil

Sekitar pukul 2.30 aku sudah siuman. Tidak ada satu pun orang di ruangan itu. Aku pun meminta suster yang bertugas untuk memanggil keluargaku.

Tak lama, suamiku datang. 

Saat itu serangan dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang datang. Aku menggigil parah. Ternyata memang begitu reaksi setelah operasi caesar. 

Setelah reaksi menggigilnya hilang, aku dibawa ke ruang perawatan. 

Bertemu Gendis Ayu

pengalaman melahirkan gendis ayu

“Selamat ya bu atas kelahiran putri pertamanya. Oh iya, tadi malam dia menjadi yang paling cantik di ruangan. Teman-temannya cowok semua yang lahir bareng dia,” tutur sang bidan.

gendis ayu dan bapak

Pagi pukul 7 pagi, seorang bidan membawa Gendis ke ruanganku. MasyaAllah senangnya luar biasa. Akhirnya bisa bertemu dengan Gendis Ayu. Bayi kecil yang tinggal di rahimku selama 40 minggu.

Selang oksigennya sudah dilepas. Saturasi oksigen yang sempat tidak stabil, pagi ini sudah stabil.

Dia begitu anteng. Jari-jaringan panjang dan lentih. Rambutnya tebal, dengan hidung minimalis seperti ibunya.

Sabaaaar. Belajar Miring dan Duduk

pengalaman melahirkan di rs anshari saleh

Pagi hari setelah Gendis diantar, aku sudah diperbolehkan untuk belajar miring. Sambil belajar menyusui.

Saat menjelag sore, perawat datang dan mengatakan bahwa aku sudah boleh belajar duduk. Pelan-pelan rasa penat di pinggang mulai muncul. 

“Sabar ya, sebentar lagi kita pulang,” tutur suamiku. 

Drama Air Minum dan Kateter

Drama melahirkan ternyata masih belanjut. Hehehe. 

Setelah melahirkan, suster memberikan arahan untuk minum pelan-pelan agar perut tidak begah.

Ternyata diasumsikan sama suamiku kalau aku tidak boleh minum banyak. Tapi namanya ibu menyusui, ya cepat haus. 

Waktu jam dokter visit, dokternya negur aku:

“Kok urinnya keruh banget mbak? Nggak banyak minum ya? Harus banyak minum mbak. Biar urinnya bagus,” tutur dokter.

Laaaah… jadinya kateter nggak bisa dilepas karena urinku cokelat keruh. Barulah setelah itu, aku mulai mencukupi kebutuhan air putih. 

Keesokan harinya. Aku mulai gelisah. Korset tidak nyaman, kateter sakit, payudara bengkak, dan puting sakit.

Akhirnya aku cuma bisa nangis. Mengeluhkan kateter yang semakin sakit saat aku duduk. 

Alhamdulillah setelah dokter melakukan pengecekan, pukul 8 pagi kateterku sudah dilepas. Aku pun lebih leluasa untuk jalan-jalan. Bahkan sudah beli jajan di depan kamar. Hehehe.  

Penutup

selamat datang ke dunia, Gendis Ayu R

Pengalaman melahirkan setiap ibu tentu berbeda. Jadi semua ibu harus siap untuk semua kondisi. Baik akan melakukan persalinan normal, melakukan induksi, atau bahkan caesar.

Bagiku, pengalaman melahirkan ini tentu sangat “lengkap”. Menjalani induksi untuk proses melahirkan normal, tapi setelah serangkaian kontrakasi akhirnya harus operasi caesar.

Cerita tentang mengASIhi akan aku tulis di artikel terpisah ya.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

26 thoughts on “Pengalaman Melahirkan: Aku Tidak Mempersiapkan untuk “Hal” Ini”

  1. Bener2 pengalaman yaaang tak terlupakan ini mbaaa…yg ada dibayangkan kita pasti lahiran yang normal aman tanpa banyak keluhan…tp ternyata sakit nya dobel2..gak bisa bayangin gmn itu sakitnya saat dijahit tp biusnya sh mulai ilang 🫣🫣

    Reply
  2. mashaallah, bener-bener jadi ibu tuh luar biasa banget yahhh..
    keren banget kamu kak! induksi sekali aja rasanya udah luar biasa, ini lebih dari satu kali..
    sehat selalu dirimu dan baby yahh..

    Reply
  3. Masyaallah melahirkan itu emang rasanya ya kuar biasa , alhamdulillah ya sudah melalui masa ini mba sehat selalu sama si kecil , doain juga aku bentar lagi mendekati hpl semoga bisa melalui proses melahirkan dengan selamat

    Reply
  4. Aku deg deg-an bacanya Mbak ya Allah, kuat banget Mbak Put MasyaaAllah. InsyaAllah rasa sakit melahirkan membantu menghapus dosa2 kita Mbak aamiin 🥺 sehat2 ya kalian 😘

    Reply
  5. Aku deg deg-an bacanya Mbak ya Allah, kuat banget Mbak Put MasyaaAllah. InsyaAllah rasa sakit melahirkan membantu menghapus dosa2 kita Mbak aamiin 🥺 sehat2 ya kalian 😘🥰🥰 btw blognya gendis cantik 🥳🥳

    Reply
  6. Selamat datang di dunia gendis ayu, semoga kamu kelak menjadi wanita hebat seperti mamak mu. salut banget perjuangan momy dalam bertahan cari rumah sakit, ditengah gempuran rumah sakit yang banyak, ikhtiarnya ttp keren

    Reply
  7. Selamat datang di dunia gendis ayu, semoga kamu kelak menjadi wanita hebat seperti mamak mu. salut banget perjuangan momy dalam bertahan cari rumah sakit, ditengah gempuran rumah sakit yang banyak, ikhtiarnya ttp keren.

    Bdw salfok, sama mamaknya tetap on point di saat operasi mau dimulai yaa, tetap cakep

    Reply
  8. Bdw salfok, sama mamaknya tetap on point di saat operasi mau dimulai yaa, tetap cakep.
    Selamat datang di dunia gendis ayu, semoga kamu kelak menjadi wanita hebat seperti mamak mu. salut banget perjuangan momy dalam bertahan cari rumah sakit, ditengah gempuran rumah sakit yang banyak, ikhtiarnya ttp keren.

    Reply
  9. Huhu terharuuu baca ceritanya.. bener sih mau lahir dengan cara normal atau caesar rasanya tetep sakit. Belum lagi pasca lahiran yg bikin aku sempat baby blues kemaren🥲

    Reply
  10. MasyaAllah, baca ceritanya jadi nyebayangin perjuangannya ngelahirin Gendis. Emang bener kata orang, melahirkan itu perjuangan antara hidup dan mati ya, makanya baik-baiklah sama ibu.

    Gendis sekarang udah 3 bulan berarti ya Mbak? Lagi lucu-lucunya itu. Gemesss

    Reply
  11. Masya Allah bacanya ngeri- ngeri sedap nih aku. Nikmatnya jadi perempuan disini nih…punya alat reproduksi ya melahirkan bayi cantik.
    Semoga Gendis jadi anak solehah ya nak. Aamiin

    Reply
  12. aku bacanya jadi ikutan panik. mana keliling sampe 6 RS pula, yaampun. perjuangan banget yaa jadi seorang ibu. selamat hadir di bumi buat adeknya. semoga ibu dan bayinya sehat selaluuu~

    Reply
  13. Wah, ada kesamaannya, Mba… Waktu melahirkan anak pertama pun ketubannya pecah duluan. Setelah ditunggu sekitar 8 jam sama sekali nggak ada bukaan, akhirnya induksi. Kalau orang bilang induksi lebih sakit dari kontraksi melahirkan biasanya, menurutku sama aja sih, waktu anak kedua tanpa induksi kayaknya sakitnya sama aja. Apa mungkin toleransi sakitku yang rendah, ya. Soalnya waktu kuret di kehamilan pertama juga bius lokalnya di aku nggak mempan.

    Reply
  14. Baca pengalamannya bikin hati deg degan, apalagi dlu pernah operasi meskipun ringan. Duh ga bisa bayangin kalau dijahit dan kerasa bangett..aaaakk aku teriak dari awal mungkin mba..

    Reply
  15. Aku bacanya deg degan, hiks, perjuangan banget pokoknya. Dan alhamdulilah Gendis lahir dengan sehat. Waktu baby.terlihat cukup besar ya mbak. Ginuk ginuk dan gemesin.

    Temenku juga ada yang cerita, kalau di ruang operasi berasa adem polll gitu,.sampe menggigil

    Reply
  16. Membaca tulisan kakak mengingatkanku dengan momen melahirkan. Rasanya sama, sakit. Ya memang saat melahirkan aku tidak merasakan sakit sama sekali, tapi setelahnya. Ya tuhaaaan. Belajar duduk dan menyusui itu juga tidak kalah sakit. Semangat deh buat bubibu di luar sana, kita hebat

    Reply
  17. Aku setiap baca pengalaman seorang ibu yang melahirkan, suka deg-deg ser. Begitu kuat dan hebatnya perjuangan seorang ibu. Adikku yg terakhir juga dilahirkan ibu secara sesar, nggak kebayang gimana sakitnya saat dijahit.

    Sehat-sehat terus ya Mama Gendis.

    Reply
  18. Perjuangan seorang ibu untuk melahirkan memang begitu berat, apalagi kalau sudah rencan anormal dan harus SC. Saya mengalami kondisi ini, di mana istri harus SC karena lewat HPL. Kata yang meriksa waktu itu belum bukaan dan langsung direkom SC. Setelah konsul sam akeluarga di rumah mereka mendukung, asal semua selama. Banyak mukjizat di dalamnya. Hingga akhirnya istri tetap melahirkan normal.

    Reply
  19. MasyaAllah pengalamannya kak Put, walau agak linu bacanya, tetapi jadi wawasan luar biasa buat daku saat di fase tersebut.
    Sehat-sehat selalu ya sekeluarga

    Reply
  20. Ka, Barakallahu fiikum..
    Aku menitikkan air mata bahagia.
    MashaAllaa~
    Perjuangan seorang Ibu. Dan rasanya yang paling merinding adalah saat kudu dibius dan masuk ruang operasi padahal sudah merasakan di induksi.

    Allah Maha Baik.
    Semoga semuanya sehat, bahagia dan si cantik Gendis tumbuh menjadi anak shaliha.

    Reply
  21. jadi ingat pengalaman melahirkanku dulu. btw nggak cuma caesar yang lahiran normal juga mengalami menggigil ini setelah melahirkan. aku bahkan sekarang nggak bisa kena air dingin langsung menggigil kayak menggigil habis melahirkan itu yang benar-benar gemeteran sebadan-badan. nggak tahu kenapa bisa begitu

    Reply

Leave a comment

gendis ayu

Gendis Ayu R.
Hallo! Selamat datang di blog gendisayu.com. Cerita gadis kecil yang suka makan strawberry, ikan, jalan-jalan, dan main hujan.
Email Kerjasama
ceritagendisayu@gmail.com

Social Media

Artikel Terbaru

Kerjasama Yuk!

Blog ini menerima kerjasam berupa review produk dan jasa

Kategori

Artikel Terbaru

Related Posts

pertimbangan anak 1 tahun sekolah

Anak Baru 1 Tahun Kok Sudah Sekolah, Ini Pertimbanganku

Gendisayu.com | Parenting – Memutuskan mengambil kelas Montessori untuk Gendis saat dia berusia 1 tahun, tentu bukannnya tanpa pertimbangan. Di mana aku juga khawatir kalau dikemudian hari Gendis lebih cepat bosan dalam belajar. Tapi setelah aku pelajari, ternyata tidak apa-apa kok memasukkan balita ke kelas Montessori selama memperhatian beberapa pertimbangan. Pahami kebutuhan anak Pada anak

review montessori madness banjarmasin

Review Montessori Madness Banjarmasin, Setelah 5 Bulan Ikut Kelas

Gendisayu.com | Parenting – Tak terasa, sudah lima bulan Gendis mengikuti kelas Montessori di Montessori Madness Banjarmasin. Selama lima bulan mengikuti kelas ini, ada banyak perubahan dan mafaat yang aku rasakan. Seperti Gendis yang lebih aktif di lingkungan sosial, serta perkembangan bahasanya.  Lantas bagaimana keseruan Gendis di kelas Montessori Madness Banjarmasin ini? Berikut ulasannya.  Apa

cek detak jantung bayi menjelang persalinan

Pengalaman Melahirkan Caesar dengan BPJS di RSUD Ansari Saleh Banjarmasin

Gendisayu.com | Gendis’s Diary – Sejak hamil, selain rutin ke dokter kandungan, aku juga rutin ke faskes pertama BPJS di Puskesmas Karang Mekar Banjarmasin. Waktu ditanya ingin melahirkan di mana, aku memutuskan untuk melahirkan di rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS. Walaupun awalnya aku berencana melahirkan normal, tapi akhirnya harus caesar.  Ternyata melahirkan dengan BPJS

gerakan tutup mulut (GTM) anak

Gerakan Tutup Mulut (GTM) Pada Anak, Mimpi Buruk Para Ibu

Gendisayu.com | Parenting – Salah satu mimpi buruk seorang ibu ialah ketika sang anak mengalami gerakan tutup mulut atau lebih dikenal dengan GTM. Aku sendiri juga pernah mengalami mimpi buruk ini. Di mana, tiba-tiba Gendis mogok makan. Jangankan membuka mulut, ia bahkan selalu berpaling ketika sendok disodorkan. Kemudian aku bertemu dengan postingan dr Tan Shot