Pengalaman Melahirkan Caesar dengan BPJS di RSUD Ansari Saleh Banjarmasin

Gendisayu.com | Gendis’s Diary – Sejak hamil, selain rutin ke dokter kandungan, aku juga rutin ke faskes pertama BPJS di Puskesmas Karang Mekar Banjarmasin. Waktu ditanya ingin melahirkan di mana, aku memutuskan untuk melahirkan di rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS. Walaupun awalnya aku berencana melahirkan normal, tapi akhirnya harus caesar.  Ternyata melahirkan dengan BPJS itu prosesnya mudah dan cepat. Berikut ini ceritaku tentang pengalaman melahirkan caesar dengan BPJS di RSUD Ansari Saleh Banjarmasin.

Mengapa Memilih Melahirkan dengan BPJS?

Sadar nggak sih, masih banyak orang yang gengsi menggunakan layanan kesehatan dari pemerintah ini? Atau ada yang pakai BPJS, tapi mereka gengsi mengakuinya. Bagiku, nggak ada yang salah dari menggunakan BPJS. Toh kita membayar iurannya setiap bulan. Entah mandiri atau dipotong dari gaji di kantor.

Berkat menggunakan BPJS, aku bisa kuret di RS Sari Mulia Banjarmasin dengan tambahan biaya 2jt rupiah saja (waktu zaman covid). Dengan rutin membayar iuran BPJS, mama meruaku bisa rutin berobat setiap bulan dan ayah ku bisa seraga ditangani saat kena serangan jantung.

Begitupun saat aku melahirkan kemarin. Aku beruntung karena telah menjadi bagian dari layanan kesehatan dari pemerintah ini. Oh iya, ada beberapa alasan aku memilih melahirkan dengan BPJS:

  1. Pelayanan BPJS sekarang sudah lebih humanis. Jika dulu banyak yang berkata pelayanan BPJS itu buruk, alhamdulillah selama ini aku selalu mendapatkan pelayanan yang baik. Baik dari faskes pertama atau faskes lanjutan.
  2. Gratis. Saat mencari tau biaya melahirkan normal dan caesar di klinik, aku dan suami langsung sepakat untuk memilih BPJS. Bukan tanpa alasan. Menurut kami, biaya melahirkan itu bisa kami alihkan untuk dana lain. Seperti dana darurat anak sakit, kebutuhan anak, dan pendidikan anak.
  3. Banyak RS yang bekerjasama. Saat ini, tentu sudah banyak rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS. Tentu ini sangat memudahkan ketika kita melahirkan.
  4. Tidak perlu rujukan untuk melahirkan.  Walaupun aku mendapatkan surat rujukan dari Puskesmas Karang Mekar Banjarmasin untuk melahirkan di RS Islam Banjarmasin, tapi saat aku akhirnya melahirkan di RSUD Ansari Saleh, surat rujukan itu tidak dicari. Karena melahirkan termasuk dalam kondisi darurat yang bisa mengecualikan rujukan.

Sudah 2 Kali Induksi, Tapi Ternyata Harus Melahirkan dengan Cara Caesar

Sejak awal hamil, aku sudah berusaha untuk meyakinkan dan mempersiapkan diri melahirkan normal. Saat ditanya oleh dokter kandungan, aku juga sudah mantap menjawab “normal”. Pada trisemester akhir, setiap hari aku rutin olahraga dengan gym ball dan jalan kaki di sore hari sepulang kerja.

Hingga akhirnya, Jum’at, 7 Oktober 2022 ketubanku rembes. Waktu ke RS Islam Banjarmasin, bidan yang bertugas sudah memberikan saran untuk operasi caesar. Aku dan suami juga langsung setuju. Karena bagi kami yang terpenting adalah keselamatan ibu dan anak. Tak penting mau melahirkan dengan normal atau caesar.

Sayangnya ruang operasi di RS Islam sedang di renovasi. Setelah keliling 6 rumah sakit, akhirnya kami memilih RSUD Ansari Saleh Banjarmasin. Cerita lengkap melahirkan Gendis Ayu ada di artikel ini.

Setelah dua kali induksi dan melalui kontraksi demi kontraksi, pukul 8 malam dokter memberikan keputusan untuk “operasi caesar”. Suamiku langsung tandatangan tanpa diskusi dengan keluarga. Karena sejak tau ketuban rembes, kami memang sudah siap jika harus operasi.

Tapi… memang bisa ya operasi caesar dengan BPJS tanpa rujukan dari dokter kandungan? Ternyata bisa langsung ditangani dengan dokter yang bertugas di rumah sakit tersebut. Tak mesti harus dengan dokter kandungan yang biasa kita konsul.

5 Dokumen yang Wajib Dibawa saat Melahirkan dengan BPJS

Berdasarkan pengalamanku, ada 5 dokumen yang wajib dibawa saat melahirkan dengan BPJS. Dokumen-dokumen tersebut sudah aku persiapkan dalam tas yang selalu aku bawa sejak usia kehamilan 6 bulan:

1# Dokumen yang dibawa saat melahirkan dengan BPJS: KTP asli dan fotokopi

Identitas diri berupa KTP suami-istri, aku fotokopi sebanyak 5 kali. Hal ini agar saat perlu fotokopinya tidak perlu repot mencari tempat fotokopi.

2# Kartu BPJS asli dan fotokopi

Pastikan kepesertaan BPJS terdaftar dan aktif. Hal ini guna mengantisipasi penolakan pelayanan di rumah sakit. Selanjutnya, kartu BPJS asli aku fotokopi sebanyak 5 kali.

3# Katu keluarga asli dan buku nikah asli yang di fotokopi

Waktu itu, kartu keluarga aku dan suami masih dalam proses. Sehingga menurut petugas puskesmas, kami harus melampirkan buku nikah yang asli dan fotokopi.

Jadi aku mempersiapkan kartu keluarga lama (aku dan suami masih pisah kartu keluarga) dan buku nikah, yang masing-masing aku fokopi sebanyak 5 kali.

4# Buku kesehatan (KIA) atau pemeriksaan ibu dan bayi

Jika Moms mengunjungi faskes pertama BPJS Kesehatan di puskesmas, maka Moms akan mendapatkan buku pink atau buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Jika Moms tidak mendapatkan buku ini, Moms bisa mengunduhnya di web Kemenkes.

Selain buku KIA, aku juga mempersiapkan riwayat pemeriksaan di dokter kandungan berupa hasil USG dan catatan dokter.

5# Surat rujukan dari faskes 1

Surat rujukan ini penting untuk mengarahkan Moms ke tempat persalinan sesuai dengan program BPJS kesehatan. Tapi jika kondisi darurat seperti yang aku alami, surat rujukan ini sifatnya opsional. Yang terpenting, Moms harus mempersiapkan dokumen 1-4 di atas.

Prosedur Melahirkan Normal dan Operasi Caesar dengan BPJS

Melahirkan dengan BPJS baik normal atau caesar sebenarnya sangat mudah. Aku dan suami sepakat bahwa melahirkan dengan BPJS itu prosedurnya mudah.

1# Prosedur melahirkan dengan BPJS dengan mengunjungi fasilitas kesehatan (faskes) 1

Sejak awal kehamilan, aku rutin mengunjungi faskes 1 BPJS Kesehatan di Puskesmas Karang Mekar Banjarmasin. Di puskesmas, aku mendapatkan pelayanan kehamilan berupa:

  • Cek detak jantung bayi (djj)
  • Pemeriksaan laboratorium ibu hamil di puskesmas berupa cek golongan darah, HB, infeksi (hepatitis, HIV, syphilis), dan protein (salah satu indikator terjadinya preeklampsia pada ibu hamil).
  • Timbang berat badan
  • Ukur tekanan darah
  • Ukur lingkar lengan atas (LiLA)
  • Imunisasi tetanus toksid (TT)
  • Tablet tambah darah
  • Vitamin

2# Pemeriksaan ibu hamil

Setiap ibu hamil, wajib melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali selama kehamilan dan minimal 2 kali pemeriksaan oleh dokter pada trimester 1 dan 3. Pastikan pemeriksaan kehamilan ini tercatatat di buku KIA.

Oh iya, pemeriksaan kehamilan juga bisa menggunakan BPJS loh. Jadi kalau ada kendala keuangan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan di dokter kandungan, jangan ragu untuk meminta surat rujukan ke faskes 1.

3# Membawa dokumen melahirkan

Sebelum menuju ke rumah sakit untuk persalinan, jangan lupa cek kembali dokumen melahirkan.

4# Ikuti prosedur yang disampaikan oleh tempat persalinan

Setelah sampai ke tempat pesalinan, selanjutnya petugas akan mengarahkan ke ruang persalinan dan keluarga akan diarahkan untuk mengurus proses administrasi dengan BPJS. Seperti tandatangan dokumen dan penyerahan berkas melahirkan dengan BPJS.

Pengalaman Melahirkan Caesar dengan BPJS, Gratis!

pengalaman melahirkan caesar dengan bpjs

Saat mengunjungi rumah sakit ke-enam, aku dan suami sempat ragu. Karena ada testimoni kurang baik dari teman dan keluarga kami yang pernah rawat inap dan melahirkan dengan BPJS di rumah sakit ini. Tapi, aku dan suami memutuskan untuk “bismillah kita coba”. Andai di awal proses administrasi layanannya kurang baik, kami sudah ancang-ancang untuk ke Siloam Hospital Banjarmasin.

Tapi…

Sejak masuk ke bagian resepsionis, kami disambut dengan ramah. Semua informasi disampaikan dengan detail dan jelas. Setelah tandatangan berkas, aku langsung dibawa ke ruang persalinan untuk dilakukan pengecekan pembukaan.

Walaupun saat itu masih pembukaan 1, tapi pihak rumah sakit Ansari Saleh Banjarmasin tidak meminta kami pulang.

“Kita tunggu ya mbak, sambil observasi,” tutur salah satu bidan.

Pukul 8 pagi, dokter menghampiri aku dan melakukan pengecekan:

  • Pembukaan
  • Detak jantung bayi
  • USG

Dari hasil pengecekan dokter, kondisi fisikku memungkinkan untuk melahirkan normal. Dokter pun memberikan saran untuk melakukan induksi. Setelah induksi pertama, ternyata pembukaanku masih bertahan di pembukaan 3, hingga akhirnya dokter memutuskan untuk induksi kedua. Sayangnya, hingga pukul 8 malam, pembukaannya masih bertahan dipembukaan lima.

“Operasi beb”

Singkat jelas dan padat.

Akhirnya dr Regina memutuskan untuk melakukan operasi caesar. Walaupun aku sempat sebal karena dokter Regina tidak langsung mengambil tindakan operasi caesar, tapi sekarang aku sudah menganggap pengalaman melahirkan ini sangat berharga. Tidak ada yang salah dengan usaha dokter Regina yang ingin mewujudkan keinginanku melahirkan normal. Toh dari awal aku sudah mempersiapkan diri untuk melahirkan normal.

Kok nggak ERACS operasi caesarnya?

Setelah mendengarkan cerita temanku yang melahirkan caesar tanpa BPJS, sebenarnya prosesnya sama aja. Bahkan kalau kita dari awal sudah berencana melahirkan dengan caesar, kita bisa memilih ERACS. ERACS adalah singkatan dari Enhanced Recovery After Cesarean Surgery, suatu prosedur operasi caesar dengan pendekatan khusus untuk mengoptimalkan kesehatan dan keamanan bunda dan bayi pada periode sebelum, selama, dan setelah menjalani operasi caesar.

Operasi caesar ERACS bisa menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan. Yang spesial dari ERACS adalah proses penyembuhannya lebih cepat.

Aku sendiri tidak operasi caesar ERACS, melainkan dengan epidural. Kata dokter anestesi, operasi ERACS membutuhkan persiapan yang lebih lama. Andaikan sejak awal masuk rumah sakit, aku sudah memutuskan operasi mungkin bisa caesar ERACS.

Dukungan MengASIhi Bayi

Salah satu yang menjadi pertimbanganku saat memilih dokter dan rumah sakit adalah dukungan terhadap ibu mengASIhi. Sejak aku teredukasi tentang ASI, aku bertekad untuk bisa mengASIhi Gendis sampai 2 tahun.

Jadi, ketika aku mendapatkan sambutan baik untuk menyusui Gendis, aku sangat senang. Yap! Pihak RSUD Ansari Saleh sangat memberikan dukungan terhadap ibu menyusui. Setelah bayi stabil, bayi akan di antar ke ruangan ibu. Ibu akan dibimbing langsung cara menyusui bayi dan posisi peletakan puting. Selain itu edukasi kebutuhan ASI, makanan yang harus ibu konsumsi juga dijelaskan.

Bidan “pemarah” di Ruang Nifas

Penyarikan banar (pemarah banget) bidannya,” omel salah satu ibu-ibu di ruang nifas.

Ku akui, bidan tersebut punya suara yang lantang dan tegas dengan peraturan. Aku sendiri sejak hari pertama sudah ditegur karena tidak menggunakan masker dan salah pasang korset. Hehehe.

“Mbak, gimana sih pasang korsetnya. Harusnya korsetnya menutupi jahitannya,” jelas beliau.

Aku sendiri awalnya takut kalau jahitannya ditutup dengan korset. Takut kalau “geser”. Beliau pun langsung melepas korset yang aku gunakan dan memasangnya dengan “benar”.

“Perhatikan ya mba, besok pasangnya harus begini. Biar badannya enak dan cepat pemulihannya,” tutur beliau.

Ternyata benar. Memasang korset yang tepat membuat aku lebih nyaman.

Setelah dari ruanganku, beliau lanjut ke seberang. Duuar! Suara lantang beliau membelah kesunyian ruang nifas.

“Ibu, kenapa bawa bedak? Mau dipakai di mana? Bayi itu nggak perlu pakai bedak. Tau nggak kenapa pakai bedak itu berbahaya buat bayi? Kalau digunakan di wajah, bisa membuat gangguan pernafasan. Kalau dipakai buat ganti popok, malah bisa membuat iritasi dan ruam popok,” jelas beliau dengan sejelas-jelasnya.

Aku sendiri tidak mempunyai masalah dengan beliau. Malah aku bersyukur bertemu dengan bidan yang tegas dan mengedukasi seperti beliau. Suamiku juga pernah bertemu beliau saat mengantarkan Gendis mandi.

“Waaah… kasian sekali nenek tadi. Kena semprot bidan. Tapi bagus bidannya. Marahnya dengan edukasi,” tutur suamiku.

Ruang Nifas, saksi bisu orangtua belajar merawat anak

makana rumah sakit
Buahnya sudah aku makan ya

Aku yakin, bukan hanya kami berdua yang menjadi orangtua baru di ruangan itu. Jujur, hingga saat ini aku sangat bersyukur mempunyai pengalaman melahirkan caesar dengan BPJS di RSUD Ansari Saleh Banjarmasin.

Walaupun petugas dan peraturannya terkesan kejam, tapi dampaknya sangat bagus. Di mana mereka memberlakukan peraturan:

  1. Penunggu hanya 2 orang dan namanya didaftarkan
  2. Penunggu yang boleh masuk ruangan hanya 1 orang, jadi gantian
  3. Tidak ada jam besuk untuk orang luar
  4. Bayi tidur di box, satu ruangan dengan ibu
  5. Jam 7 pagi bayi dipersiapkan untuk mandi
  6. Makan tiga kali sehari

Berkat peraturan itu, sejak hari pertama melahirkan, suami dan istri sama-sama belajar bagaimana cara merawat new born. Suami dan istri mempunyai peran dan beban yang “seimbang” dalam pengasuhan anak. Suami yang sering dinilai pasif dalam pengasuhan bayi, mau tak mau harus berperan aktif.

Seperti suamiku yang sejak hari pertama Gendis lahir sudah belajar membersihkan poop bayi, belajar mengganti baju, dan belajar membedong bayi.

Petugas yang siaga

Walaupun dengan peraturan tersebut, pasangan suami istri dituntut untuk siaga, tapi pihak rumah sakit tak lantas lepas tangan. Petugas yang berjaga 24 jam selalu siaga ketika ada yang membutuhkan bantuan. Seperti kami yang malam itu kalut karena Gendis mengeluarkan suara “grok-grok” yang cukup nyaring.

Bidan yang jaga langsung ke kamar dan melakukan pengecekan saturasi oksigen. Hasilnya normal.

“Mungkin karena di bawah AC pak, coba pindah posisinya dan beri minyak telon di dada dan kakinya,” jelas beliau.

Penutup

foto pertama bersama gendis

Semakin hari, pelayanan kesehatan terus bertumbuh ke arah yang lebih baik. Walaupun pelayanan kesehatan dengan BPJS kerap diasumsikan “gratis”, padahal setiap bulan kita melakukan pembayaran iuran. Jadi tidak ada salahnya menggunakan pelayanan kesehatan dari pemerintah ini.

Seperti pengalamanku yang memilih menggunakan BPJS untuk melahirkan. Ternyata pelayanannya juga ramah dan cepat. Tidak seperti rumor yang beredar. Makanan rumah sakitnya juga tetap mengutamakan gizi seimbang dari protein hewani, nabati, serat (buah dan sayur), dan karbohidrat. Menurutku rasa makanannya cukup enak kok.

Jadi, jika kalian ingin melahirkan dengan BPJS tak ada salahnya melakukan survey ke rumah sakit. Bisa melakukan tanya jawab ke pihak rumah sakitnya dan cek Google review. Bukan hanya mengandalkan “katanya”.

Terimakasih untuk RSUD Ansari Saleh yang telah memberikan pelayanan terbaiknya membantu persalinanku.

Sumber artikel:

Leave a comment